Berita

.

Workshop Pengkatalogan Berbasis RDA

Hilis | Jumat, 27 Oktober 2017 - 10:52:23 WIB | be reader: 91 reader

RDA (Resource Description and Access) adalah standar pendeskripsian dan akses baru yang dibuat untuk menggantikan AACR pada tahun 2009 karena AACR dianggap sudah tidak mampu merepresentasikan isi bahan perpustakaan jenis digital.
 
RDA dianggap sudah banyak diterapkan diberbagai negara seperti Australia, Selandia Baru, Inggris, Kanada, Amerika Serikat. Di Indonesia sendiri yang menerapkan RDA Perpustakaan Nasional RI dan Universitas Indonesia. RDA belum banyak diterapkan di perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. Kebijakan perpustakaan nasional RI mengharapkan RDA diterapkan terlebih dahulu di perguruan tinggi.
 
UPT Perpustakaan UNTIRTA sebagai perpustakaan perguruan tinggi memcoba memperkenalkan terlebih dahulu RDA melalui workshop 2 hari. Workshop ini diikuti 50 orang peserta pengelola perpustakaan dari berbagai jenis perpustakaan di wilayah Banten. Selain pengelola perpustakaan UNTIRTA, hadir pula peserta dari perpustakaan perguruan tinggi lain, perpustakaan sekolah, perpustakaan khusus instansi, dinas perpustakaan & kearsipan (DPK) prov Banten, serta dinas perpustakaan dan arsip (DPK) kabupaten/kota di wilayah Banten.
 
Workshop dilaksanakan di gedung COE (center of Excellence) lantai III Fakultas Teknik UNTIRTA, Jalan Jendral Sudirman KM. 3 Cilegon.
 
Materi yang disampaikan meliputi: 
  1. Pengembangan Pengorganisasian Informasi yang disampaikan oleh Drs. Ahmad Masykuri, SS., MM
  2. RDA (Kebijakan, Pedoman, FRBR, FRAD) yang disampaikan oleh Dra. Sri Mulyani, M.Si
  3. Metadata yang disampaikan oleh Lilies Fardhiyah, S.Sos., MP
  4. Praktek pengkatalogan berbasis RDA yang disampaikan oleh Destiya Puji Prabowo, M.Hum. 
 
Workshop ini dibuka secara resmi oleh kepala BAKP UNTIRTA, Drs. M. Ganiadi MM yang mewakili rektor dalam memberikan sambutan dan membuka acara secara resmi. Menurut beliau perpustakaan sekarang sudah semakin berkembang dan diharapkan peserta dapat mengikuti workshop dengan baik dan dalam keadaan sehat hingga workshop berakhir.
 
RDA menurut narasumber bukanlah sebuah aplikasi namun merupakan standar pengkatalogan baru karena kedepan lebih dari 70% koleksi perpustakaan berbentuk digital. Kabid pengembangan koleksi, A. Masykuri yang menjadi narasumber berharap UNTIRTA akan menjadi pionir dalam pengembangan RDA di Banten.
 
Workshop selain diisi materi juga diperkenalkan inlishlite yang sudah berbasis RDA. Namun demikian, menurut narasumber apapun aplikasi/software yang diterapkan perpustakaan akan dapat dikembangkan/dicostumize sehingga compatible dengan RDA.
 
Workshop berakhir pada tanggal 26 Oktober dengan ditutup oleh kepala Perpustakaan UNTIRTA dengan harapan dapat melaksanakan kembali kegiatan kepustakawanan yang melibatkan seluruh peserta dari IPI Banten dan FPPTI Banten.