Koleksi Terbaru

Menjemput Hidayah

Hilis | Rabu, 30 Augustus 2017 - 09:01:41 WIB | be reader: 136 reader

Judul                   : Menjemput Hidayah

Pengarang          : Acep Hermawan, M.Ag.

Edisi/cetakan      : 1

Penerbitan          : Jakarta, Rosda, 2013

Deksripsi Fisik   : xvii, 474 hlm.; 23 cm.

ISBN                    : 978-979-692-449-3

 

Buku ini ditulis dengan tujuan tidak saja sekedar berbagi ilmu dan pengalaman penulis, namun juga sebagai upaya penulis agar hidayah milik Allah SWT dapat diperoleh kita semua. Hidayah tidak diperoleh secara Cuma-Cuma, namun harus diupayakan melalui bentuk kesadaran melaksanakan agama Islam.

Hidayah adalah petunjuk Allah yang diberikan kepada makhluk-Nya. Dalam tataran operasional, hidayah ada yang berlaku umum berupa insting, indra, dan akal bagi manusia. Ada juga hidayah yang khusus, yakni petunjuk yang berupa agama supaya manusia berada pada jalan yang lurus. Hidayah adalah otoritas Allah, dalam arti tidak ada seorang pun yang bisa menggerakkan mental spiritual sesorang agar berada di jalan yang benar, kecuali dikehendaki Allah, melalui upayanya (seseorang yang menginginkan hidayah) yang sungguh-sunggh. Oleh karena itu, hidayah ini harus dijemput.

Cara menjemput hidayah antara lain dengan mengasah keimanan, bertobat, menambah ilmu, meningkatkan ibadah ritual (shalat, shaum, dzikir, dan lain-lain), menafkahkan sebagaian rezeki, menjalin harmoni sosial, dan berdoa kepada Allah sebagai pemilik hidayah.

Dalam buku ini membagi 3 bagian penting dalam menjemput hidayat. Ketiga hal tersebut berkaitan dengan pribadi, sosial, dan pesan transendental yang patut kita tauladani. Hal pertama yang berkaitan dengan pribadi, lebih bersifat kepada perbaikan diri (taubat) untuk memperoleh hidayah. Diantaranya yang pertama adalah meluruskan niat di setiap awal amalan kita. Apapun yang akan dilakukan awalai dengan niat yang baik. Islam menegaskan bahwa yang menentukan berkualitas atau tidaknya suatu pekerjaan anatara lain adalah faktor niat. Umar bin Khattab dalam hadist berkata: “pekerjaan-pekerjaan itu tergantung niat, dan setiap orang bekerja tergantung apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya untuk mencari dunia atau perempuan yang dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan yang ia niatkan.” (HR Bukhari). Selain nita, yang kedua adalah mengucapkan basmallah atau bismillah (nama Allah) disetiap aktivitas sehingga setiap pekerjaan kita tidak kering dari nilai-nilai ketauhidan. Ketiga adalah dzikir. Dzikir dikumandangkan dalam hati, dengan lisan maupun perbuatan, dzikir merupaka upaya manusia menghadirkan pertolongan Allah dari berbagai keburukan. Hal lainnya yang bersifat pribadi dalam menghadirkan hidayath adala bertobat, bersyukur, terus memupuk kecintaan kepada Allah dan Rasulullah, memanfaatkan waktu untuk amal sholeh, bertawassul, berbahasa dan berbahagia karena Allah SWT.

Kaitan dengan sosial adalah lebih kepada hubungan kita dengan sesama, silaturrahmi dengan umat, melakukan amalan sholeh yang berkaitan dengan mempererat jalinan silaturrahmi antara muslim seperti memakmurkan mesjid dan jihad. Namun demikian, solidaritas soaial diantara umat pun tetap dijalin. Adapaun hal yang berkaitan dengan pesan transendental adalah dengan terus memupuk diri dengan pesan2 yang terkandung dalam ibadah kurban, isra mi’raj, hal-hal sunnah dilaksanakan, memahami bacaan al-quran dan bahasa takdir.

Seseorang yang mendapatkan hidayah Allah SWT, sedikit atau banyaknya, akan terindikasi oleh kecerdasan spiritualnya, dengan ditanda oleh sikap dan sifat sadar akan adanya Allah, berpandangan luas, fleksibel, silaturrahmi, sabar dalam perbedaan, inspiratif, dan mengambil pelajaran dalam setiap peristiwa.

                                                                                           Pustakawan,

 

 

 

                                                            Nia Kurniawati